KupuBuku berasal dari gabungan kata: Kupu-kupu dan Buku. Kata KupuBuku menyiratkan makna perubahan hidup karena membaca buku; mirip dengan proses perubahan bentuk kupu-kupu.

Kata KupuBuku hinggap di benak Sapto pada tahun 2008. Di balik kata KupuBuku tersimpan aspirasi untuk meningkatkan literasi di Indonesia melalui peningkatan kualitas perpustakaan sekolah. Bila sekolah-sekolah di Indonesia punya perpustakaan yang layak, maka tingkat literasi bangsa juga akan naik.

Pada tanggal 20 Oktober 2010, Sapto bersama kawan-kawan di Surabaya (Andrian, Audi, El Adisaputra) mendaftarkan KupuBuku sebagai sebuah Yayasan. Perjalanan untuk mewujudkan impian akan segera dimulai.

Impian KupuBuku ialah melihat semakin banyak sekolah di Indonesia punya perpustakaan yang layak. Ada tenaga/orang yang bisa mengelola perpustakaan sekolah dengan baik. Koleksi bukunya beragam dan menarik. Murid dan guru rajin berkunjung dan memanfaatkan perpustakaan sekolah.

Perjalanan mewujudkan impian ini, ternyata, berkelok-kelok. Tidak selurus yang dibayangkan. Sekretariat KupuBuku pun berpindah-pindah, mengikuti tempat tinggal Sapto. Pernah bertempat di Desa Tambaksari – Pasuruan selama 2010-2012. Pernah juga di Leeds selama 2012-2013 ketika Sapto lanjut kuliah dengan beasiswa Chevening. Sempat sunyi selama 2014-2015 ketika Sapto bekerja di Pangkalan Bun. Aktif lagi di Denpasar sepanjang 2016-2017. Kemudian, pindah ke Pangkalpinang mulai 2018.

Lika-liku perjalanan ini justru mempertajam visi KupuBuku, yakni melihat semakin banyak sekolah di Indonesia punya perpustakaan yang layak. Untuk mewujudkan impian ini, KupuBuku menyelenggarakan dua program: Pustakawan Hebat! dan BagiBuku.

Apa kamu punya impian yang sama dengan KupuBuku? Kita bekerja sama, yuk!