Istilah crowdfunding merupakan gabungan dari kata crowd (orang banyak) dan funding (pendanaan). Arti sederhananya: pendanaan yang dilakukan orang banyak atau beramai-ramai. Konsep ini sebenarnya juga sudah akrab buat orang Indonesia. Istilahnya di sini hampir mirip dengan istilah urunan atau patungan.

Kegiatan urunan atau patungan ini mulai memanfaatkan dunia internet. Dengan begitu banyaknya orang yang saling terhubung di internet, diharapkan mereka dapat saling membantu untuk mewujudkan sebuah impian.

Crowdfunding digunakan untuk berbagai keperluan, antara lain: bantuan kemanusiaan, mengumpulkan maupun meminjamkan modal usaha, membiayai sebuah proyek atau membuat produk perdana. Di Indonesia, kita bisa lihat beberapa situs crowdfunding, misalnya: KitaBisa (untuk amal), GandengTangan, Akseleran, KoinWorks (ketiganya ini untuk modal usaha). Pernah ada juga situs crowdfunding di Indonesia untuk mendanai kegiatan seni. Sayangnya, situs ini tidak berumur panjang.

KupuBuku memanfaatkan crowdfunding untuk mengatasi permasalahan kurangnya koleksi buku-buku bacaan di perpustakaan sekolah. Dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) yang digadang-gadang untuk pengembangan perpustakaan seringkali tidak mencukupi karena jumlah siswa yang tidak terlalu banyak, sementara operasional sekolah tetap lebih tinggi. Penggunaan metode crowdfunding diharapkan dapat menarik dukungan lebih banyak orang untuk menambah koleksi perpustakaan sekolah.

Cara kerja crowdfunding berbeda daripada donasi buku konvensional. Dengan cara konvensional, pihak sekolah cenderung pasif; duduk manis mengharapkan donasi buku datang dari segala arah. Kalaupun ada donasi buku datang, kondisi buku bisa saja bermacam-macam (ada yang bekas, sudah tidak layak) dan judulnya pun tidak seperti yang diharapkan.

KupuBuku menyelenggarakan program BagiBuku untuk menyalurkan donasi buku-buku ke perpustakaan sekolah dengan mengadopsi metode crowdfunding. Melalui program ini, petugas perpustakaan sekolah diharapkan lebih aktif dalam membuat Kampanye BagiBuku. Mereka diminta lebih dulu membuat akun di kupubuku.org. Kemudian, membuat profil sekolah dan perpustakaannya, menyusun daftar kebutuhan buku-buku dan menghitung jumlah harganya. Setelah itu, mendaftarkan kampanye mereka di website KupuBuku.

Apakah cukup sampai di situ? Tidak juga! Setelah kampanye ditampilkan di kupubuku.org, petugas perpustakaan sekolah diharapkan juga aktif menyebarluaskan kampanyenya di media sosial. Semakin luas jangkauan kampanye, semakin besar peluang untuk dapat dukungan. Di sisi lain, KupuBuku juga membantu promosi Kampanye BagiBuku secara online dan offline. Dengan bekerja sama seperti ini, target Kampanye BagiBuku diharapkan dapat tercapai semuanya.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.